Ketika menerima kabar akan mendapat teaching assigment 1 minggu di Sri Lanka, kata Tamil Tiger langsung terlintas di benak saya. Ada rasa khawatir terhadap kondisi keamanan di negara pulau ini, apalagi seminggu sebelumnya kelompok Tamil Tiger kembali menyerang Colombo airport menggunakan single engine airplane. Tapi penasaran juga rasanya, seperti apa rasanya mengunjungi negara yang sedang rawan konflik? Apalagi selama di Jakarta sudah terbiasa dengan isu bom, pencopet di bus kota, dan preman Senen, jadi saya pikir akan aman nyaman saja di Colombo ;).
Penerbangan 3.5 jam Singapore - Colombo terasa cepat, maklum pakai SQ. Biasanya langganan airasia atau jetstar, atau paling mentok Garuda kalau dibayari kantor. Film di pesawat Letter of Iwo Jima (Ken Watanabe), plus ngantri pipis ke kamar mandi, plus baca 10 halaman buku “The Art of Intrusion” (Kevin Mitnick), tak terasa sampai di Colombo.
Keluar dari Bandaranaike International Airport saya langsung mencari-cari taxi pickup yang telah dijanjikan. Wah, tidak ada satupun driver yang menunjukkan badge dengan nama saya. Repot, jangan-jangan lupa dijemput. Setelah celingukan kira-kira 10 menit, saya putuskan cari taxi saja di luar airport. Ternyata si driver menunggu di luar, bukan di pintu arrival. Sambil menunggu antrian taxi, mata saya langsung mengobservasi sekeliling mencari sasaran untuk koleksi foto-foto narsis.
Tapi saya harus menelan ludah kecewa karena tentara dengan senapan M16 di tangan berjaga di sepanjang koridor airport. High security zone, dilarang mengambil gambar :(. Suasana airport Colombo tidak lebih ramai dari terminal Blok M, bahkan jalanan di depan airport juga kalah mulus dibanding boulevard Kelapa Gading. Semua tampak sederhana, fungsional, apa adanya. Bangga juga punya Sukarno Hatta. Bedanya, tidak tampak calo taxi di sini, aman dan nyaman.
Masuk taxi, agak surprise juga. Saya duduk di kursi belakang dan tersedia seat belt di sana. Di Jakarta, taxi sekelas blue bird hanya menyediakan seat belt di kursi depan :D. Si sopir cukup lancar berbahasa Inggris meskipun dengan grammar agak kacau. Untuk mencairkan suasana, saya ajak dia ngobrol tentang cricket, karena tim Sri Lanka baru saja meraih prestasi bagus di kejuaraan dunia seminggu sebelumnya. Dia tampak gembira sekali, padahal saya ngerti cricket juga enggak ;). Di Sri Lanka, sepak bola kurang populer. Cricket adalah olah raga massal seperti halnya orang Brazil menyukai soccer.
Setelah perjalanan 1 jam, sampai juga di hotel Ceylon Continental jam 13.30 siang. Check in, masuk kamar, ganti baju, turun lagi ke lobby. Untung ada bookshop yang menjual kartu telepon. Satu kartu telepon berharga 15000 LKR (Sri Lanka Rupee) atau sekitar US$15. Lega sudah, bisa SMS dan telpon-telpon ke kampung.Â
Bagai para traveller, disarankan membawa US$ atau S$ karena mata uang LKR susah ditukar ulang ke mata uang lain. Jangan berharap menemukan money changer yang mau menerima LKR untuk ditukar ke mata uang lain, sangat sulit. Jadi sediakan LKR dalam jumlah yang memang dibutuhkan. Kalau Anda tidak memiliki LKR, tidak masalah. Rata-rata toko di Colombo menerima US$ sebagai sarana pembayaran meskipun dengan rate kurang menguntungkan. ATM Cirrus, Alto. atau Maestro juga cukup mudah ditemukan. Satu hal lagi, jika Anda membayar belanjaan dengan US$ atau S$, maka uang kembalian diberikan dalam mata uang LKR.
Sedikit catatan kecil jika berbelanja, biasanya penjual di Colombo akan berusaha menawarkan barang-barang lain yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Saat saya menunggu uang kembalian, si pelayan menawarkan untuk membelanjakan uang kembalian dengan top up pulsa. Saya bilang No, thanks. Ternyata dia menawarkan barang lain lagi, lagi, dan lagi. Repot, namanya juga usaha :). Say No saja, akhirnya dia berikan juga uang kembalian itu. Ini cuma penjual di level warung atau retail, kalau di supermarket untung tidak berperilaku sama.
Tips lain jika berbelanja di shopping center, biasanya tidak menggunakan harga pas. Jadi memang harus tawar menawar, sama dengan yang biasa terjadi di Pasar Senen atau Pasar Baru. Uniknya, penjual di sini menggunakan modus operandi yang sedikit lebih canggih daripada di Jakarta. Ketika kita berpindah dari satu toko ke toko lain untuk mencari harga lebih murah, maka seorang makelar akan mengikuti di belakang secara diam-diam. Si makelar berdiri di belakang kita, memberikan isyarat tertentu kepada penjual agar memasang harga pada level tertentu :). Tujuannya jelas: agar bisa menjual lebih mahal dari harga sebenarnya. Nanti sang makelar akan mendapat komisi dari penjual. Inovatif juga triknya.
Kebetulan kamar hotel tepat menghadap ke Indian Ocean, pemandangannya sangat menarik untuk difoto. Sayang sekali terlarang difoto karena termasuk high security zone. Konon pemberontak Tamil Tiger bisa menyerang Colombo dari laut, wah! Untuk menentukan apakah suatu objek boleh diambil gambar atau tidak, sebenarnya mudah. Jika di sekitar lokasi terdapat tentara berjaga-jaga maka terlarang mengambil gambar. Repotnya, hampir di setiap sudut kota tampak tentara berjaga-jaga dengan senjata di tangan. Kehidupan tampak berjalan normal, walaupun seminggu sebelumnya pihak berwajib berhasil menangkap pelaku percobaan suicide bomber.
Mulai jam 7 malam, biasanya dilakukan regular checking di jalan protokol. Semua mobil diperiksa dan penumpang diminta menunjukkan kartu identitas. Setelah beberapa kali melewati jalan yang sama dan diperiksa oleh petugas yang sama, tampaknya si tentara mulai hafal. Besoknya lagi, dia memberi isyarat untuk langsung jalan, no checking.
Kota Colombo tidak lebih besar dari Solo. Bangunan berasitektur kolonial sangat mudah ditemui di setiap tempat. Memang di masa lalu Sri Lanka adalah koloni Portugis, Belanda, Inggris, sebelum akhirnya merdeka pada 1948. Sebelumnya negara ini bernama Ceylon, tetapi nama tersebut dirubah secara resmi menjadi Sri Lanka pada 1972. Sri berarti “suci”, sedangkan Lanka adalah nama pulau tersebut. Tidak jelas apa arti kata Lanka, sebutan untuk pulau ini yang ditemui di dalam epic Ramayana, sebagai negara yang dipimpin oleh Rahvana. Dalam versi wayang Jawa, Lanka disebut sebagai Alenko yang diperintah oleh Rahwana. Negara ini hanya berpenduduk 20 juta jiwa dengan mayoritas etnic Sinhalese (75%) dan sisanya Tamil, Melayu. Arab, dan Moor. Sebagian besar penduduknya penganut Buddha (Theravada) disusul Hindu, Kristen, dan Islam.
Setelah 2 hari di Colombo, saya mulai merasa comfortable. Karakter penduduknya sangat mirip orang jawa. Ramah, menghormati tamu, dan welcome terhadap foreigner. Seperti kebanyakan negara berkembang, penduduknya mampu bekerja keras dengan gaji minimal. Kantor klien saya masih ramai pada jam 9 malam dengan para programmer yang sibuk memelototi layar monitor. Saya jadi teringat saat masih menjadi full time programmer dan dikejar dead line :D.
Akhir kata, 1 minggu di Colombo saya harus kembali dengan tangan hampa. Sedikit sekali koleksi foto yang didapat. Tidak banyak waktu luang karena jadwal mengajar baru selesai sekitar jam 7-8 malam. Sudah teler dan biasanya langsung tidur :). Pada hari terakhir, hujan deras sehingga tidak leluasa mengambil gambar. Memang sedang apes…