Apakah Sertifikasi IT Masih Berguna?

Is IT certification still valuable?

Saat ini banyak vendor menawarkan berbagai sertifikasi IT, baik untuk level technical support, engineer, architect, developer, maupun auditor. Rata-rata membutuhkan biaya mahal untuk mendapatkan sertifikasi tersebut.

Sebagai contoh, satu mata ujian MCP (Microsoft Certified Professional) membutuhkan biaya Rp.550.000,-. Sedangkan Cisco mematok harga sekitar 1,4 juta per mata ujian. Harga tersebut belum termasuk biaya berbagai kursus, buku, dan riset internet yang perlu dikeluarkan sebelum mengikuti ujian.

Memiliki sertifikasi IT dari vendor international memang tampak bergensi. Bayangkan apabila Anda memiliki sertifikat MCSE (Microsoft Certified System Engineer) atau OCP (Oracle Certified Professional). Peluang mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi terbuka lebar di depan. Benarkah demikian?

  1. Apakah sertifikasi seseorang merupakan jaminan atas keterampilan dan keahlian yang dimiliki?
  2. Apakah sertifikasi membantu mendapatkan pekerjaan yang diidamkan?

Sayangnya kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan. Saya banyak menerima keluhan bahwa memiliki sertifikasi tidak menjadi jaminan mudah mendapatkan pekerjaan serta gaji yang layak.
Berikut adalah beberapa sebab membuat sertifikasi tidak menjamin mendapatkan pekerjaan dan gaji yang diharapkan:

  1. Populasi pemegang sertifikasi semakin besar dibandingkan 5-10 tahun lalu. Ini menyebabkan persaingan juga semakin ketat. Jika 5 tahun lalu memiliki sertifikat CCNA dan MCP (lulus 1-2 mata ujian Microsoft) merupakan sesuatu yang bergengsi, tidak semikian halnya saat ini. Anda dapat dengan mudah menemukan pekerja atau mahasiswa yang telah memiliki CCNA atau MCP.
  2. Permintaan industri IT semakin kompleks, dan tuntutan kerja semakin tinggi. Saat ini masalah yang dihadapi perusahaan baik IT maupun non IT sangat beragam, sehingga tidak dapat diselesaikan dengan keterampilan yang diwakili oleh 1-2 sertifikasi. Dimasa lalu menjadi ahli Windows networking mendapatkan penghargaan tinggi. Tetapi dengan makin banyaknya perusahaan yang mengadopsi Linux dan menggunakan Cisco router, maka mereka menuntut pekerjanya memiliki keahlian di beberapa bidang sekaligus.
  3. Tuntutan skill perusahaan semakin tinggi. Jika dimasa lalu sertifikasi menjadi jaminan mendapat pekerjaan, maka saat ini terdapat kecenderungan sertifikasi hanya menjadi jaminan dipanggil interview :).
  4. Banyaknya paper MCSE dan paper CCNA, atau paper OCP, telah menurunkan nilai sertifikasi. Sebutan paper certified diperuntukkan bagi sesorang yang memiliki sertifikasi, tetapi tidak mempunyai skill sesuai yang diharapkan. Pemegang MCSD, tetapi tidak memahami konsep object oriented dan exception handling. Pemegang CCNA, tetapi bahkan tidak mampu mengkonfigurasi router dan menghitung subnetting dengan benar. Pemegang MCSE, tetapi tidak tahu port berapa yang digunakan SMTP dan POP3. Hal ini terjadi karena mereka hanya berfokus pada bagaimana lulus ujian dengan selamat, dan tidak mempelajari konsep dasar serta berlatih dengan berbagai keterampilan di dunia nyata. Kenyataan ini diperparah dengan banyaknya situs internet yang menawarkan “latihan soal”, tetapi sebenarnya adalah bocoran soal. Beberapa admin testing center yang nakal telah membuat soal-soal tersebut bocor dan diperdagangkan di internet. Microsoft, Cisco, Comptia, telah banyak melakukan upaya hukum terhadap para pembocor, namun tetap saja mati satu tumbuh seribu :).
  5. Banyak para pemburu sertifikasi tidak menyadari bahwa pengalaman di dunia nyata adalah jauh lebih penting daripada sertifikat. Sertifikasi diperlukan sebagai bukti kemampuan, tetapi bukan target utama. Hindari mengambil ujian untuk sesuatu yang Anda tidak memiliki kemampuan nyata di dalamnya.

Apakah sertifikasi IT masih bernilai, jawabnya bisa ya, bisa tidak. Tergantung bagaimana cara kita mendapatkannya, dan kemampuan nyata yang dimiliki.

  39 comments for “Apakah Sertifikasi IT Masih Berguna?

  1. November 14, 2006 at 6:46 AM

    is Bill Gates Microsoft Whatever certified?
    Ndak kan?
    Boss Cisco Indonesia juga ngaku ndak punya sertifikat Cisco kok … he he .. :)

  2. November 14, 2006 at 7:15 AM

    Mas Choirul, saya sangat setuju dengan yang anda paparkan. Memang masalah IT terlalu kompleks, dan tidak cukup hanya dengan satu sertifikt saja. Alangkah lebih sayangnya lagi, seorang engineer yang berpengalaman 4 tahun lebih tapi tidak punya CCNA dihargai lebih rendah daripada anak kemarin sore yang sudah CCNA tapi nambah static routing saja tidak bisa he he he. Mungkin kita di Indonesia harus punya standar sertifikasi IT sendiri ;).

  3. bsrd
    November 14, 2006 at 11:53 PM

    waduh, saya lagi blajar buat sertifikasi nih. tapi ga bayar, karena rencananya mau pake voucher. jadi gimana dong ????

  4. dedi
    November 15, 2006 at 3:54 AM

    Ya betul. Ditambah fakta2 pasti lebih mantap lagi.

  5. November 15, 2006 at 6:06 AM

    Sebenarnya ini berawal dari ketidakharmonisan antara dunia pendidikan dan dunia industri. Dulu, orang begitu bangga mendapatkan ijazah S1 dari kampusnya. Lalu menganggap bahwa dengan ijazah itu ia dapat melakukan apapun. Tapi, ketika nilai mulai bergeser, IT sudah mulai dianggap sesuatu yang harus, para pemilik ijazah ini mulai bimbang. Sebab apa yang dibutuhkan industri ternyata tidak sesuai dengan keterampilan yang ia pelajari selama di bangku pendidikan. Akhirnya, tidak jarang kita lihat banyak sekali lulusan universitas terkenal yang harus kursus lagi, ambil kelas pendek untuk materi teknis yang dibutuhkan di kerjaannya. Kondisi ini sungguh dilematis. Akhirnya, cari jalan pintas, ambil sertifikasi profesional dengan cara instan, yang penting dapet sertifikat. Skill … ah menyusul kemudian.

    Kembali masalah sertifikasi profesional apakah dibutuhkan atau tidak, saya rasa tergantung orangnya, untuk tujuan apa dia mengambil itu. Tapi memang idealnya adalah adanya sertifikasi formal dan sertifikasi profesional dimiliki sekaligus. Ini bicara ideal, tapi kadang ada hal-hal yang tidak ideal yang sering kita alami.

    Sebenarnya, asalkan kita sudah cukup sering terlibat di dalam case project, maka proses mendapatkan sertifikasi itu sangatlah mudah. Soal-soal yang diujikan pada dasarnya tidak akan keluar dari apa yang dia kerjakan di dalam project. Semakin sering dia mengerjakan project, semakin kenyang dengan pengalaman, dan semakin berkembanglah pemahaman dia pada materi sertifikasinya. Tidak perlu belajar pun bisa. Saya sendiri mengalami benar hal itu. Ujian sertifikasi MCP, MCAD tanpa belajar dari contoh-contoh soal. Semata-mata berdasarkan pengalaman pribadi saat mendevelop project dan berinteraksi dengan client.

    Sebenernya, dunia pendidikan kita sudah memahami benar konsep Link and Match. Tapi sering kali penerapannya tidak sesuai seperti yang dipikirkan. Dunia pendidikan kita lebih banyak mata kuliah ‘titipan’ yang dipaksakan untuk diterima bagi mahasiswa. Pada akhirnya, ketika bersaing di dunia industri mereka harus mulai lagi dari nol. Belum lagi, tak adanya referensi formal untuk mereka. Jika 3 hal itu bisa dilengkapi, sertifikasi formal, sertifikasi profesional, referensi profesional, maka SDM kita tidak akan kalah dari negara-negara lain secara keseluruhan.

    Jadi, sudah saatnya kita melengkapi diri dengan sertifiksai formal, sertifikasi profesional yang sesuai kemampuan, dan referensi profesional.

    Sebagai satu implementasi kecil dari ide tersebut, dibuatlah Cirebon .NET Academy yang intinya adalah mencoba untuk benar-benar menerapkan konsep Link and Match dengan baik dan benar.

  6. MCA
    November 15, 2006 at 12:10 PM

    Hi Wikan
    Memang bill gates, steve job, paul ellison, john cambers, nggak ada yg punya sertifikasi :). Tetapi mereka punya nilai lebih, sudah nasib engineer harus punya sertifikasi dulu.

  7. MCA
    November 15, 2006 at 12:13 PM

    Bos Agung ,
    selamat dengan dengan peluncuran .Net academy nya. Jangan lupa untuk mengajarkan algoritma, struktur data, dan OOAD sebagai modal utama para mahasiswa. Tool dan framework bisa expired kapan saja ;).

  8. Imran Fadhilah
    November 16, 2006 at 2:40 AM

    Apapun alasannya kita perlu mengedepankan sertifikasi dan Skill. Seseorang harus bisa mempertanggung jawabkan apa yg dia miliki dan dia publikasikan. Jadi ngak perlu dipermasalahkan apakah perlu sertifikasi atau tidak, yg jelas sebuah perusahaan akan dengan detail melakukan proses recruitment untuk bisa mendapatkkan kandidat terbaik diperusahaannya.

    Perusahaan tentu punya standar gaji menurut pendidikan formal, sertifikasi maupun skill update dari masing2 orang. So jangan banyak bicara, KAREPE DIEM JUST DO IT !!!

  9. MCA
    November 16, 2006 at 10:12 AM

    Sdr Imran,
    Siapa yang anda maksud banyak bicara ? :)
    Saya mencoba mereview, apakah sertifikasi masih dibutuhkan saat ini. Jawabannya tentu saja perlu, dengan catatan pemilik sertifikasi harus dapat mempertanggungjawabkan apa yang dimilikinya.

    Tulisan saya sekedar mengingatkan, bahwa sertifikasi bukan tujuan akhir. Get the skill first, and then certify. Saat ini banyak rekan melakukannya dengan terbalik: dapat sertifikasi dulu, skill meunyusul :). Akibatnya melakukan segala cara untuk mendapatkan sertifikasi tanpa mengikuti jalur belajar yang benar.

    rgds
    Choirul Amri (MCSD, MCDBA, MCAD, MCTS)

  10. November 20, 2006 at 12:05 AM

    Saya juga kurang setuju sih dengan sertifikasi sertifikasian gitu, ya tapi mau gimana lagi, orang bisa survive melalui yang gitu gituan, tapi walau bagaimanapun sertifikasi dan non sertifikasi, bergantung pada orang nya saja, proses sertifikasi itu melalui test, baca soal, jawab, dll, sedangkan skill itu ngga bisa di ukur melalui itu, ada kok orang yang udah jago nyeting BGP, padahal ccna pun belom

    kan….

  11. Dino
    November 24, 2006 at 3:11 AM

    Perlukah sertifikasi… jawaban saya perlu… soal2 di ujian untuk sertifikasi sudah dibuat sedemikian rupa agar kita bisa tahu semua teknikal skil yang harus dan mutlak dipunyai… tapi kalo tujuan sertifikasi untuk dapet kerja ya salah… ada yang udah jago jaringan nyetig BGP segala tapi belom tentu lulus ujian CCNP. kenapa … ? nyeting BGP ataupun OSI Layer dll kan cuma satu bagian dari materinya… jadi sertifikasi disini fungsinya menambal lubang pengetahuan kita… gitu lho.. bukan untuk dapet kerja and gaji yang gede… jadinya kalo gitu cara2 yang diltempuh untuk sertifikasi jadi ngawur dunk… get certified makes you keep sharp and update for new technology… that’s what i feel…. :)

    Addino Yudi OCP

  12. November 24, 2006 at 4:08 PM

    Saya pikir keunggulan de facto lebih penting daripada seberkas sertifikat :-) CMIIW

  13. Sandy
    December 15, 2006 at 11:06 AM

    Nggak usah aneh. Dinegara Kita, INDONESIA, anggota DPR ajah ada yang sebenernya cuma SD, ijazah beli, plagiat. Mo bukti yg lebih extreme lagi, saya punya temen bergelar formal S.Kom, tapi burning cd ajah gak bisa. Saya pernah pelatihan IT tingkat nasional, asisten PJ. IT nasional gak bisa pake laptop, Temen saya Sarjana IT lulusan India, nginstal PC Tablet ajah gak bisa. Sejarahnya emang Indonesia itu dulu memang kerajaan-kerajaan. Yang bisa cari muka, yang bisa jilat, yang bisa kasih upeti, dijamin enak.

    Sertifikasi kan cuma masalah gengsi ajah, kalo gak didukung sama sense IT pasti percuma. SO, KITA TINGGAL PILIH :
    1. Punya Ijazah dan Sertifikasi tapi gak bisa kerja
    2. Bisa kerja tapi gak punya Ijazah dan Sertifikasi
    3. Punya Ijazah, Sertifikasi dan bisa kerja
    4. Gak bisa kerja, punya sertifikasi tapi dia anak mertua

    THE BEST TEACHER STILL n STILL EXPERIENCES

  14. January 16, 2007 at 3:50 AM

    Sertifikasi memang cukup untuk membuktikan kompetensi yang kita miliki, namun harus bisa mempertanggung jawabkan keilmuan dari sertifikasi tersebut. Selama sertifikasi itu melalui tahapan yang benar seperti “learn => skills => certify” hal ini menjadi sah-sah saja.
    Tapi apa yang terjadi kalo sertifikat yang dipegangnya didapatkan dari seorang “joki ujian” (balakangan lagi marak lho…) jawabannya NO WAY, ATTITUDE IS NO SUBSTITUTE FOR COMPETENCE.

  15. agung
    January 30, 2007 at 12:11 PM

    Sebenarnya klo saya berpikir… org indonesia pd nguber sertifikat karna tabiatnya org indonesia(termasuk saya) pd umumnya MALAS2!!. Pengen gaji GEDE SKILL GA GEDE2… !! pengen GAJI GEDE ORA ENE OPO-OPO NE..!!

    Sekedar menggambarkan
    Saya cuma lulusan STM MESIN, kuliah Mesin DO 1 thn, tapi skarang saya bisa mikrosop windos apaan aja(kecuali win 31 kbawah) he..he.. saya megang semua windos serper(sampe bug2nya) utk keperluan apa aja, sql server saya bisa, daleman windos pernah saya ganti bhs indonesia smua make registry.. sengga-ngganya saya bisa dibilang ENGINEER OS WINDOS dong.. tapi ga punya sertifikat MCSE, MCP.. trus kuliah boro2 S1 IT, D3 aja blm punya duit buat kuliah..

    tapi ada tmn saya lulusan S1 IT,malah lagi lanjutin S2nya… tapi klo mslah kbisaan IT… tmn saya itu , mslsh network/program dll, bisa dinilai 2,1 dari 10..
    apalagi dia skarang mo ngambil SISKO, weleh.. bikin jaringan nge-domain aja ora iso…

    Utk diindonesia(mungkin didunia) memang mesti diakui, sertifikat sekelas CCNA, MCSE , SUN dll menambah daya dongkrak seseorg utk dibidang IT.
    tapi klo kenyataannya yg punya sertifikat seperti itu NOL BESAR!!!! … saya rasa yg punya vendor malu… :(

    TAPI SAYA TAHU & YAKIN, GA SEMUA YG PUNYA INTERNATIONAL CERTIFIEDS ARE BULLSHIT…!!!

  16. syaiful ahdan
    February 10, 2007 at 12:38 PM

    saya sependapat dengan rekan-rekan, bahwa dijaman sekarang sertifikat itu bukan hal yang wah. terkadang ada yang tidak memiliki sertifikat malah menguasai banyak di bidang IT. ada yang hanya memiliki sertifikat untuk kepentingan-kepentingan tertentu. misalnya hanya untuk melamar bekerja di perusahaan yang bonafide dengan alasan biasanya setelah di terima akan ada training. tetapi untuk mendapatkan sertifikasi CCNA. tidak harus berlatar belakang IT. saya teman kebetulan satu kelas dengan saya waktu mengabil student cisco. ya sah sah saja. ko he.he he

  17. Ali
    March 29, 2007 at 7:38 AM

    IMHO,saya kira semuanya penting kok, baik itu pendidikan formal ( SMU,S1,S2..dll), non formal (MCP,OCP,CCNA dll), maupun pengalaman technical itu synergi kok, ya tergantung kebutuhan masing2..level management, technical.. sebagai contoh untuk kasus Management trainee kan sifatnya general bisa dari berbagai jurusan..kalo technical ya minimal tau basicnya..

  18. ebola212
    March 29, 2007 at 7:47 AM

    Tapi kebanyakan untuk kerja di luarnegri harus memiliki syarat-syarat diantaranya sertifikasi. Itu gimana dong ???

  19. Rudolf
    April 6, 2007 at 2:49 PM

    saya rasa jika kita mau bersaing dengan orang-orang dari luar negeri, kita sendiri harus punya modal. mengapa kita perlu sertifikasi ? karena sistem pendidikan kita tidak menciptakan seorang tenaga ahli. sarjana lulusan PT indonesia adalah orang2 yang sebenarnya nggak siap kerja (bandingkan dengan lulusan dari luar negeri katakanlah malaysia) kalau kita tidak meningkatkan nilai jual kita dengan menambah skill lewat sertifikasi internasional kita akan kalah dengan tenaga kerja dari luar yang secara pendidikan jauh lebih siap dan mungkin juga sudah bersertifikasi.
    Rudolf Gumansalangi trainer junicorp.

  20. re
    April 30, 2007 at 5:09 AM

    Wah Sertifikat…. Q ja bingung soale…. Orang terdekatQ alias BooossQ tu Seorang yang menggalakkan Sertifikat… Hee.. Heee… Tapi Kdang pnting juga sihhh, Bagi seorang yang ingin bekerja tapi belum diakui di masyarakat… But bagi yang dah punya nama alias di kenal tuuu ga perlu kayaknyaa…. Okkkkkkkkkkkkkkk

  21. ebola212
    May 8, 2007 at 6:09 AM

    Mo tanya ada yang punya pengalaman kerja di luar negri gak, dimana kita diminta suatu sertifikat IT, tapi ternyata kita tidak punya. padahal kita mampu di bidang itu ?

    tolong pencerahannya !

  22. May 14, 2007 at 11:32 AM

    hai ……..orecel gimana saya bisa belajar anda dan anda ada dimana ? saya posisi di daerah bekasi jadi kalo ada di daerah jakarta pusat atau dekat bekasi tank’s

  23. Pipit
    May 22, 2007 at 4:43 AM

    kaka’ semua aku ditawarin ikutan CCNA & MCP menurut kalian mana yg harus kau ambil dulu yah? trus buat yg udah pernah ikutan CCNA & MCP share donks pengalamannya…

    thanks…

  24. martha
    May 25, 2007 at 2:09 AM

    sertificate dan pengalaman dua unsur yang tidak dapat dipisah tetapi mahasiswa sekarang hanya dapat memilih mencari sertificate dan mencari pengalaman di dunia kerja nanti

  25. May 25, 2007 at 2:27 AM

    Weleh-weleh rame juga. Yang jelas semuanya kita serahkan ke pasar aja deh. Yang jelas kalau kita bisa menciptakan sesuatu dari TI, software, hardware, dll. serta bermanfaat untuk orang banyak pasti deh laku dan bisa menghasilkan doku, haha

  26. MCA
    May 27, 2007 at 3:47 PM

    #Tutang:
    Betul pak Tutang, kerja nyata memang membuktikan segalanya :). Terima kasih sudah mampir di sini.

    #Martha:
    Mencari sertifikat di awal sah-sah saja, asalkan dicapai dengan cara yang benar. Belajar > Latihan > Praktek > ambil ujian. Jangan mengambil jalan pintas 😉

  27. MCA
    May 27, 2007 at 3:52 PM

    #Pipit:
    Maksudnya MCP Windows server? karena banyak sekali versi MCP tergantung pada produk yang diujikan. CCNA dari cisco lebih banyak membahas sisi infrastruktur internetworking, khususnya Cisco router. Sedangkan MCP Windows Server lebih menekankan pada sisi server software yaitu operating systemnya. Idelanya seorang pekerja networking memahami kedua hal ini (CCNA dan MCP Windows Server).
    Pada level lanjut, bisa dipilih salah satu track yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang digeluti.

  28. June 11, 2007 at 8:59 AM

    perlu mas sertifikat itu koq menurut saya..sebagai nilai tambahan kalo kita sudah teruji..tentu saja pengalaman di bidang IT harus menunjang dong..jangan hanya punya sertifikat..keahlian dodol.com..malu atuh

  29. Bujang
    June 19, 2007 at 2:50 AM

    Sertifikasi di Indonesia nasibnya sama kayak ijazah yah?… selembar kertas yang kadang tidak menunjukkan kemampuan pemegangnya…
    Gw udah 5 tahun lebih di dunia IT, megang mulai dari Windows Desktop sampe Server sampe Linux sampe Cisco Router, PIX, Mikrotik, Lotus, dll. tp gw ga mau ambil sertifikasi… kenapa? karena gw males dan jenuh jadi engineer terus, mending jadi enterpreneur kaya Steve Jobs ato Bill Gates yang ga punya sertifikasi professional tapi bisa punya banyak duit… kekekeke

  30. ajie
    July 2, 2007 at 6:43 PM

    saya lagi mengikuti kursus ccna di salah satu tmpt kursus terkenal..niatnya saya sehabis ccna saya mau lanjut ke ccnp, saya juga punya sertifikat linux dan windows 2003 server hanya tdk taraf internasional dan disamping itu karna saya tidak mempunyai pendidikan formal spt s1 krn wkt itu saya salah jurusan dan saya berhenti..di cisco ini saya semngat sekali mengikutinya..pertanyaan saya.. bisakah saya mendapatkan pekerjaan tanpa gelar s1 tapi saya hanya mengandalkan ccna atau ccnp dan sertifikasi lain yang saya punya…thanks

  31. MCA
    July 3, 2007 at 3:19 PM

    mas ajie,

    cukup banyak rekan-rekan yang sukses meniti karir di bidang IT, tetapi tidak menamatkan pendidikan formal. Hanya saja ini adalah jalur alternatif. Jika memiliki ijazah formal misalnya D3 atau S1, maka dalam melamar kerja akan lebih mudah karena memiliki keunggulan dejure.

    Sebaliknya hanya bermodal sertifikat dan skill, maka harus berjuang lebih keras untuk membuktikan bahwa kita memang mampu, meskipun tidak memiliki ijasah formal. Bahasa lainnya, harus mampu menunjukkan keunggulan defacto terlebih dahulu. Jalur ini sangat sesuai digunakan untuk berpindah posisi tetapi masih dalam 1 perusahaan, karena calon atasan atau rekan sudah mengetahui kemampuan nyata kita.

  32. rony
    July 16, 2007 at 5:20 AM

    kembali ke tujuan sertifikasi saja sih sebenar nya …masalah di kuar terjadi macam – macam sih pasti ada ..sertifikasi kan di buat untuk pegangan pencari kerja atau referensi sebagai mana ijasah

    ..masalah penguasaan dari dari isi sertifikat hrs nya di uji lagi ..saya melihat sertifkasi harus nya nilai nya di bawah pengalaman kerja sih ..apalagi pengalaman di imbangi dengan sertifikasi justru lebih solid..
    justru yang saya yang kurang setuju dengan CCAP alis cisco certified kenapa ya bukan network+ saja ya..yang jadi ngetop masalah nya kalo network+ kan benar benar vendor netral nya ..

  33. July 23, 2007 at 2:38 AM

    wah… setelah membaca tulisannya mas choirul, saya jadi ragu-ragu untuk mengambil certificate MCP. Tapi saya pikir tidak ada salahnya kita mengambil sertifikasi ini. Hanya diri kita sendiri lah yang tahu kemampuan kita. Dan jika memang sertifikasi ini membantu untuk menyakinkan pihak lain akan kemampuan kita, maka tidak ada salahnya kita mengambilnya. Bagi saya, sertifikasi ini hanya untuk mempertegas kemampuan dan keahlian yang kita punya dan kita dapat melalui pengalaman di dunia nyata.

  34. wong ndeso
    July 30, 2007 at 1:53 AM

    kalo menurutku, sertifikasi di bidang IT tu penting, kerana jenjang karier di IT itu sendiri ditentukan oleh sertifikat yang kita punya.. ingat pangkat tertinggi di IT cuma manager IT tho..
    sama seperti ijazah S1 yang cuma jadi syarat minimal pendidikan kalo kita mo nglamar kerjaan..

  35. donz
    August 1, 2007 at 10:39 AM

    Klo saya sih,tetap menganggap penting sebuah sertifikasi,tapi ya teteup skill n experience mantapz jd lebih afdol, klo untuk sertifikasi jg lebih prefer ke manajerial IT, skarang lg belajar,bekerja dan mengejar PMP(Project Management Profesional) dari PMI dan sertifikasi SAP,ga salah juga koq ngambil sertifikasi,betul jg kata2 tetua diatas,paling nggak,skillnya jg sejalan sm sertifikasi

  36. December 2, 2007 at 10:54 AM

    Wah, terima kasih atas masukkannya, kebetulan kursus CCNA saya mulai nya minggu depan, jadi semangat belajar nich..!!!

Leave a Reply to Hendra Cancel reply