Oase di jalur Pantura

Akhir bulan January 2006 lalu, saya berkesempatan menelusuri jalur Pantura dalam perjalanan pulang kampung. Bersama rekan saya Kunarto, mengendarai mobil di jalur pantura ternyata bukan ide yang baik di pertengahan musim hujan. Jalanan macet penuh lubang, menjadi perangkap berbahaya untuk mobil-mobil sedang dan besar. Macet 4 jam di jalur Indramayu sudah merupakan pemandangan biasa karena kondisi jalan yang sangat jelek dan cenderung terbengkalai. Untunglah ada Warung Makan Sea Food AsSyafiq. Kami mencoba mampir dan ternyata mendapatkan oase yang sangat menyejukkan di restoran ini. Siapa saja yang melewati jalur pantura bersama rekan dan keluarga sebaiknya tidak melewatkan restoran yang asri, sejuk, dengan pemandangan alami laut utara di halaman belakang.

Sesaat setelah masuk ke ruangan, kita dapat segera memilih antara duduk di meja atau lesehan. Tersedia juga saung-saung kecil berupa rumah panggung di halaman belakang, yang didirikan diatas kolam ikan. Baik dari ruangan tengah maupun saung kita dapat menikmati sejuknya angin pantai dan deburan ombak. Sungguh sesuatu yang menyejukkan setelah 4 jam lebih dijebak macet di Indramayu :). Nampaknya pemilik resto sengaja membiarkan jendela belakang terbuka tanpa kaca agar angin pantai dapat bebas masuk ke ruangan.

Lima belas menit kemudian hidangan mulai tersaji. Suguhan kangkung cah jamur sangat menggugah selera, disajikan dengan teknik hotplate ala sirloin steak. Kepulan asap dan uap segar dari hotplate benar-benar membuat perut semakin lapar. Selanjutnya kerang saus tiram dan udang cah jamur, plus nasi putih yang ternyata kurang untuk kami berdua. Terpaksa order 1 bakul lagi dan membuat perut kekenyangan. Rasanya cukup lezat, setingkat lebih enak daripada sea food kaki lima di jakarta.

Apabila berhenti di tempat ini dan bertepatan dengan waktu sholat, tersedia mushola yang bersih dan luas di halaman samping. Saya sangat surprise mendapati WC dan kamar kecil yang wangi dan terjaga kebersihannya. Benar-benar serasa di rumah sendiri, berbeda dengan tempat makan berhenti bus yang biasanya menyajikan WC jorok :).

Saya menyempatkan berjalan 200 meter ke arah halaman belakang dan menemukan bibir pantai serta kolam garam. Di sisi kiri halaman tersedia beberapa petak kamar yang nampaknya disediakan sebagai penginapan. Ketika tiba saatnya membayar makanan, saya lebih terkejut lagi. Harganya ternyata tidak lebih mahal dari sea food kaki lima di Jakarta. Semoga saya dapat mengunjunginya di lain waktu. Apabila berjalan dari arah Jakarta, maka AsSyafiq terletak di sebelah kiri jalan. Beberapa kilometer sebelumnya sudah terpasang baliho yang mengiklankan restoran ini.

Selamat mencoba…

Leave a Reply