Resign dengan Baik dan Benar

Resign telah menjadi fenomena baru di kalangan orang kantoran. Ada banyak alasan untuk resign, misalnya mendapat pekerjaan baru, tidak cocok dengan atasan, meneruskan sekolah, atau menikah dan full time menjadi ibu rumah tangga. Apapun alasan Anda untuk resign, sebaiknya tetap menggunakan cara-cara yang dapat diterima semua pihak. Dalam pengalaman saya selama lebih dari 7 tahun di dunia kerja, saya telah banyak menjumpai berbagai kasus resign baik yang dilakukan dengan cara baik-baik, maupun yang menimbulkan sakit hati kedua belah pihak (pekerja dan pengusaha). Tulisan ini memberikan beberapa tips untuk melakukan “successfull resign” :)

Pertama, pastikan Anda telah memiliki tujuan pasti setelah mengundurkan diri. Kasus umum yang terjadi adalah telah mendapat pekerjaan baru yang lebih menjanjikan baik dari segi gaji maupun pengambangan karir. Jangan sekali-kali mengambil keputusan resign hanya karena alasan emosional dan personal. Misalnya Anda kurang cocok dan terlibat perselisihan dengan atasan atau rekan sekerja. Banyak anak muda yang secara egois berniat membela harga diri, dan serta merta keluar dari tempat kerja karena alasan-alasan tersebut. Tentu saja tidak dengan cara baik-baik, dan tidak melalui prosedur pemberitahuan 1 bulan sebagaimana tercantum di Undang Undang Ketenagakerjaan.

Kedua, ajukan surat pengunduran diri 1 bulan sebelumnya. Ini sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, dan baik secara etika. Sebagai karyawan yang memiliki tugas dan tanggungjawab, Anda tentu memiliki banyak pekerjaan yang belum terselesaikan ketika mengajukan pengunduran diri. Waktu 1 bulan ternyata cukup pendek untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan yang tersisa serta menyerahkan pekerjaan tersebut ke pengganti Anda. Bos Anda juga perlu waktu untuk merekrut pegawai pengganti. Saya banyak menemukan kasus dimana pemberitahuan hanya dilakukan 1 minggu sebelumnya, atau bahkan 1 hari sebelumnya. Hal ini sangat tidak etis disamping melanggar aturan perundangan. Sebagai karyawan yang selalu rutin menerima gaji bulanan, adalah suatu kewajiban moral untuk memberitahukan dengan baik-baik tentang rencana Anda kepada perusahaan. Waktu 1 bulan juga cukup bagi Bos Anda untuk berpikir, mungkin memberikan kenaikan gaji atau tawaran baru untuk mempertahankan agar Anda tidak resign :)

Selesaikan dan buat serah terima pekerjaan.
Buatlah agenda serah terima pekerjaan tersebut, untuk dipindahkan ke rekan kerja lain atau ditangani atasan. Jika kebetulan Anda seorang atasan, maka perlu membuat laporan ke direksi mengenai berbagai pekerjaan pending yang harus diselesaikan. Buatlah daftar mana yang bisa Anda selesaikan, dan pekerjaan mana yang harus diteruskan pengganti Anda.

Siapkan Pengganti
Jika Anda seorang atasan, ada baiknya mulai menyiapkan pengganti ketika Anda mulai berniat meninggalkan pekerjaan sekarang. Salah satu kesuksesan pemimpin adalah apabila mampu menyiapkan pengganti. Mungkin anak buah Anda sekarang tidak bisa 100% menggantikan posisi tersebut. Tetapi paling tidak telah terjadi transfer knowledge dan wewenang, sehingga kondisi pekerjaan Anda tidak kacau balau setelah ditinggalkan. Banyak rekan merasa bangga apabila pekerjaan dan departemennya kacau setelah ditinggalkan. Mereka berkata “lihat tuh, setelah saya tinggal jadi berantakan”. Saya menilai hal ini sebagai egois dan tidak professional. Anda tidak perlu melakukan sabotase atau pengacauan untuk menunjukkan kemampuan. Rekan kerja dan atasan akan lebih respek apabila Anda mampu melakukan pergantian personel secara mulus tanpa goncangan.
Tentu saja suatu bagian akan pincang sesaat setelah ditinggalkan personel kunci, tetapi jika pergantian tersebut telah disiapkan maka akan mudah kembali ke posisi normal. Banyak rekan berkata “ngapain gua pikirin, itu bukan urusan saya!”. Saya justru berpikir sebaliknya. Jika Anda professional, maka memikirkan kesinambungan pekerjaan setelah Anda tinggalkan adalah salah satu etika utama seorang professional.

Jangan menjelekkan tempat kerja lama.
Apapun pengalaman Anda di tempat baru, hindarilah menjelek-jelekkan tempat kerja lama Anda. Bagaimanapun Anda telah bekerja di sana, mendapatkan pengalaman, dan menerima gaji bulanan. Bersikaplah professional dan proporsional. Jika ada yang bertanya tentang tempat kerja lama Anda, jawablah dengan professional. Anda dapat menjawab secara obyektif, baik sisi negatif maupun posisitf. Tetapi menonjolkan sisi negarif dan menambahkan bumbu persepsi personal, akan menjadikan anda seorang penggosip daripada seorang professional. Rekan dan atasan di tempat baru juga tidak akan merasa nyaman jika Anda terus bercerita negatif tentang masa lalu Anda. Atasan baru Anda akan berpikir, bahwa suatu saat Anda juga akan menjelekkan dirinya jika Anda pindah ke tempat kerja lain :).

  7 comments for “Resign dengan Baik dan Benar

  1. Resi Bayu Purnomo Aji
    March 8, 2006 at 2:04 AM

    Halo bung Choirul,

    Tulisan anda mengenai topik resign ini sangat menarik, saya kira ada unsur EQ yang tercantum didalamnya. Memang betul untuk resign, diperlukan suatu keputusan yang matang dan terencana. Bravo buat tulisannya.

    Best Regards
    B4yu_Ch4n

  2. My4
    March 28, 2006 at 2:34 AM

    TOP BGT. SIP DAH.

    Hi My4,
    Ternyata ada tamu cakep di sini :)
    [mca]

  3. MCA
    March 30, 2006 at 5:42 AM

    Thx mas Bayu, semoga Anda juga bisa resign dengan selamat!

  4. irfanmal-tn4
    May 3, 2006 at 7:39 AM

    Bagus tulisannya tentang resign, sangat Islami dan menentramkan

  5. lia
    March 21, 2007 at 10:04 AM

    mmm…tulisannya kena bgt. berpikir 2x untuk gw ambil keputusan keluar,but pertannyaannya….apakah kalo situasi kerja udah membuat kita tertekan masih patut untuk dipertahankan???

  6. May 17, 2010 at 2:19 PM

    Tulisannya bagus… belajar lebih banyak, terimakasih.
    Besok mau resign. Bismillah

Leave a Reply to MCA Cancel reply